0


Allah Ta’ala berfirman,

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian karunia-Nya. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan” (QS. Ar Rum : 23)

“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat” (QS. An Nabaa’ : 9)

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yaitu termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya, Allah menjadikan sifat tidur bagi kalian di waktu malam dan siang. Dengan tidur, ketenangan dan rasa lapang dapat tercapai rasa lelah dan kepenatan dapat hilang” (Tafsir Ibnu Katsir III/402)

Berikut beberapa adab tidur seorang muslim yang dikerjakan oleh Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

Pertama, berwudhu sebelum tidur. Dari Bara’ bin ‘Azib radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Idzaa atayta madhja’aka fatawadhdha’ wudhuunaka lish-shalaaH” yang artinya “Apabila kalian hendak mendatangi tempat tidur, maka berwudhulah seperti wudhu kalian untuk shalat” (HR. al Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

Imam an Nawawi rahimahullah mengatakan, “Hadits ini berisi anjuran untuk berwudhu ketika hendak tidur. Apabila seseorang telah mempunyai wudhu, maka hal itu telah mencukupinya, karena maksuddari itu semua adalah tidur dalam keadaan suci khawatir maut menjemputnya seketika itu.

Maksud yang lainnya, dengan berwudhu dapat menjauhkan diri dari gangguan setan dan perasaan takut ketika tidur” (Syarah Shahiih Muslim XVII/197)

Kedua, membersihkan (mengebuti) tempat tidur. Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Apabila salah seorang diantara kalian hendak tidur maka kebutilah tempat tidurnya dengan ujung sarungnya, karena sesungguhnya dia tidak tahu apa yang akan menimpanya” (HR. al Bukhari no. 6320 dan Muslim no. 2714)

Ketiga, membaca surat al Ikhlas, al Falaq dan an Naas. Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallaHu ‘anHa, ia berkata,

“Adalah Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam apabila hendak tidur beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu meniupnya seraya membaca surat al Ikhlas, al Falaq dan an Naas. Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangannya ke bagian tubuhyang bisa diusap. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian tubuh lainnya sebanyak tiga kali” (HR. al Bukhari no. 5017, Abu Dawud no. 5056 dan at Tirmidzi no. 3406)

Keempat, tidur dengan berbaring ke sisi kanan. Dari Bara’ bin ‘Azib radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Idzaa atayta madhja’aka fatawadhdha’ wudhuunaka lish-shalaaH, tsummadh thaji’ ‘alaa syiq-qikal ayman” yang artinya “Apabila kalian hendak mendatangi tempat tidur, maka berwudhulah seperti wudhu kalian untuk shalat, kemudian berbaringlah ke sebelah kanan” (HR. al Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

Imam Ibnu Qayyim al Jauziyyah rahimahullaH berkata, “Adalah Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam tidur dengan berbaring ke kanan dan beliau meletakkan tangannyayang kanan di bawah pipinya yang kanan” (Zaadul Ma’aad I/150)

Imam Ibnul Jauzi rahimahullaH berkata, “Keadaan tidur seperti ini sebagaimana ditegaskan oleh pakar pengobatan, adalah keadaan (posisi)yang paling baik bagi tubuh” (Fathul Baari XI/132)

Kelima, membaca doa sebelum tidur. Dari Hudzaifah radhiyallaHu ‘anHu, ia berkata,

“Apabila Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam hendak menuju pembaringannya untuk tidur, beliau berdoa, ‘AllaHumma bismika amuutu wa ahyaa (Yaa Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup kembali)’. Ketika bangun tidur, beliau berdoa, ‘AlhamdulillaHil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilayHin nusyuur (Segala puji bagi Allahyang telah menghidupkan kami kembali setelah sebelumnya mematikan kami, dan hanya kepada-Nyalah kami akan kembali)’” (HR. al Bukhari, Abu Dawud, at Tirmidzi no. 3413 dan Ibnu Majah)

Keenam, tidak tidur setelah Shubuh. Suatu ketika ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaHu ‘anHu melihat anaknya sedang tidur di waktu Shubuh, kemudian beliau berkata,

“Bangunlah !, Apakah engkau hendak tidur disaat rizki itu sedang dibagikan?” (Zaadul Ma’ad IV/221)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Tidur di waktu shubuh dapat mencegah rizki, karena pada waktu itu adalah waktu manusia mencari rizkinya. Waktu shubuh adalah waktu pembagian rizki. Maka, tidur pada waktu ini adalah dilarang kecuali apabila hal itu sangat dibutuhkan sekali. Tidur di waktu Shubuh membahayakan sekali bagi badan, dapat menyebabkan kemalasan dan lemah” (Zaadul Ma’ad IV/222)

Ketujuh, dibencinya tidur sebelum ‘Isya dan bercakap-cakap setelahnya. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Barzah radhiyallaHu ‘anHu,

“Bahwasannya Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam membenci tidur sebelum ‘Isya’ dan bercakap-cakap setelahnya” (HR. al Bukhari no. 568 dan Muslim no. 647)

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaH berkata, “Dibencinya tidur sebelum ‘Isya’ karena dapat melalaikan pelakunya dari shalat ‘Isya’ hingga keluar waktunya, adapun bercakap-cakap setelahnya yang tidak ada manfaatnya, dapat menyebabkan tidur hingga shalat Shubuh dan luput dari shalat malam” (Fathul Baarii I/278)

Kedelapan, dibencinya tidur dengan telungkup (tengkurap). Tikhfah al Ghifari radhiyallaHu ‘anHu berkata,

“Suatu ketika tatkala aku tidur di dalam mesjid, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiriku, sedangkan aku dalam keadaan tidur telungkup, lalu dia membangunkanku … seraya berkata,

‘Qum, HadziHi dhaj’atun yubghidhallaH (Bangunlah ! Ini adalah bentuk tidur yang dibenci Allah)’

Maka aku mengangkat kepalaku, ternyata beliau adalah Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam” (HR. at Tirmidzi no. 2768, Ibnu Majah no. 3723 dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiih Adabul Mufrad no. 905)

Syaraful Haqq al ‘Azhim Abadi berkata, “Berdasarkan hadits ini, bahwa tidur telungkup di atas perut adalah terlarang, dan itu adalah bentuk tidurnya setan” (‘Aunul Ma’buud XIII/261)

Kesembilan, dilarang meletakkan sebelah kaki di atas sebelah kaki lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

“Jika salah seorang diantara kalian terlentang di atas punggungnya (tidur), maka janganlah menaruh salah satu kakinya di atas kaki yang lain” (HR. at Tirimdzi no. 2766, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash Shahihah no. 1255)

Sumber Bacaan :

Karakter dan Kepribadian Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, Imam at Tirmidzi, ditahqiq oleh Syaikh al Albani, Pustaka at Tibyan, Solo.

Sifat Tidur Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, Abu ‘Abdillah bin Luqman al Atsari, Media Tarbiyah, Bogor, Cetakan Pertama, Rabi’ul Awwal 1428 H/April 2007 M.

Mudah2an Bermanfaat.

http://diserambimesjid.blogspot.com/2009/10/adab-tidur-seorang-muslim.html

Dikirim pada 22 April 2010 di akhlak dan nasehat
03 Apr


Islam mengenal istilah jidal. Para ulama menafsirkannya dengan perdebatan dalam hal-hal yang tidak berguna atau tidak bermanfaat. Jidal adalah termasuk dalam perdebatan yang dilarang adalah semua perdebatan yang menyebabkan kegaduhan, mudharat kepada orang lain atau mengurangi ketentraman. Sementara perdebatan yang baik dan masih diperbolehkan adalah perdebatan untuk menjelaskan kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras penantangnya lagi lihai bersilat lidah’.” (HR Bukhari [2457] dan Muslim [2668]).

Diriwayatkan dari Abu Umamah r.a., ia berkata: “Rasulullah saw .bersabda, “Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka gemar berdebat. Kemudian Rasulullah saw. membacakan ayat, “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58).” (Hasan, HR Tirmidzi [3253], Ibnu Majah [48], Ahmad [V/252-256], dan Hakim [II/447-448]).

Diriwayatkan dari Abu Ustman an-Nahdi, dalam sebuah hadist lain, ia berkata, “Aku duduk di bawah mimbar Umar, saat itu beliau sedang menyampaikan khutbah kepada manusia. Ia berkata dalam khutbahnya, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya, perkara yang sangat aku takutkan atas ummat ini adalah orang munafik yang lihai bersilat lidah’.” [HR Ahmad]

Kerap dijumpai di tengah masyarakat, peristiwa yang berakhir saling bunuh atau saling membinasakan. Jika ditelisik lebih jauh, kejadian tersebut bermula dari cekcok dan salah paham. Ini menjadi indikasi bahwa lidah memiliki bahaya besar bila tak dijaga.

Berikut beberapa adab terkait dengan urusan lidah atau bercakap.Islam adalah agama yang sangat rapi mengatur umatnya. Terhadap hal-hal sekecil apapun, Allah SWT sudah mengatur. Dalam Islam, berbicara, berbahasa dan bercakap-cakap harus punya adab dan sopan-santun nya. Di bawah ini adalah adab-adab berbicara dalam Islam yang harus menjadi pegangan kita.




Adab Berbicara


1. Ucapan Bermanfaat
Dalam kamus seorang Muslim, hanya ada dua pilihan ketika hendak bercakap dengan orang lain. Mengucapkan sesuatu yang baik atau memilih diam. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (SAW) bersabda, “Barang siapa mengaku beriman kepada Allah dan hari Pembalasan hendaknya ia berkata yang baik atau memilih diam.” (Riwayat al-Bukhari).

2. Bernilai Sedekah
“Setiap tulang itu memiliki kewajiban bersedekah setiap hari. Di antaranya, memberikan boncengan kepada orang lain di atas kendaraannya, membantu mengangkatkan barang orang lain ke atas tunggangannya, atau sepotong kalimat yang diucapkan dengan baik dan santun.” (Riwayat al-Bukhari).

3. Menjauhi Pembicaraan Sia-Sia
Sebaiknya menghindari pembicaraan berujung kepada kesia-siaan dan dosa semata. “Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh jaraknya dariku pada hari Kiamat adalah para penceloteh lagi banyak bicara.” (Riwayat at-Tirmidzi) .

4. Tidak Terperangkap Ghibah
“…Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (al-Hujurat [49]: 12).

5. Tidak Mengadu Domba
Hudzaifah Radhiyallahu anhu (RA) meriwayatkan, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

6. Tidak Berbohong
“Sesungguhnya kejujuran itu mendatangkan kebaikan, dan kebaikan itu akan berujung kepada surga. Dan orang yang senantiasa berbuat jujur niscaya tercatat sebagai orang jujur. Dan sesungguhnya kebohongan itu mendatangkan kejelekan, dan kejelekan itu hanya berujung kepada neraka. Dan orang yang suka berbohong niscaya tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (Riwayat al-Bukhari).

7. Menghindari Perdebatan
Sedapat mungkin menjauhi perdebatan dengan lawan bicara. Meskipun boleh jadi kita berada di pihak yang benar. Sebab Rasulullah SAW telah menjamin sebuah istana di surga bagi mereka yang mampu menahan diri. “Aku menjamin sebuah istana di halaman surga bagi mereka yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berhak untuk itu.” (Riwayat Abu Daud, dishahihkan oleh al-Albani).

8. Tak Memotong Pembicaraan
Suatu hari seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah SAW, ia langsung memotong pembicaraan beliau dan bertanya tentang hari Kiamat. Namun Rasulullah tetap melanjutkan hingga selesai pembicaraannya. Setelah itu baru beliau mencari si penanya tadi. (Riwayat al-Bukhari)

9. Hindari Mengolok dan Memanggil dengan Gelar yang buruk
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) . Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan yang lain. Karena boleh jadi perempuan (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok) itu. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain. Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa yang tak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Hujurat [49]: 11).

10. Menjaga Rahasia

“Tiadalah seorang Muslim menutupi rahasia saudaranya di dunia kecuali Allah menutupi (pula) rahasianya pada hari Kiamat.” (Riwayat Muslim).

[Sahid/www.hidayatullah.com]


sumber

Dikirim pada 03 April 2010 di sejarah
Profile

ana seorang gadis berjilbab yang mencari jati diri ana sndiri.. yang ingin membahagiakan keluarga ana dan ingin sukses dunia maupun akhirat.. dan ana mencintai Alloh selalu More About me

Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.087.604 kali


connect with ABATASA