0
Dikirim pada 30 April 2010 di akhlak dan nasehat

Dalam perang Hudaibiyah kaum muslimin datang dengan penuh kerinduan ke Baitullo. Tetapi mereka bersama Rasulullo Shallallahu’alaihi wasallam dihalang-halangi oleh kaum musyrikin dari melaksanakan niat mereka itu.

Sehingga ada unek-unek dalam hati para sahabat Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam. Maka Umar radiyallahu’anhu menemui Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam seraya bertanya, “Bukankah engkau benar-benar Nabi Alloh Subhanahu wa Ta’ala?” Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menjawab: “Benar”. Ia bertanya, “Bukankah kita berada di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan?” Beliau menjawab, “Benar”. Ia berkata: “Kalau begitu kenapa kita memberikan kehinaan kepada agama kita?”

Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab, yang artinya: “Aku adalah utusan Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan aku tidak pernah bermaksiat kepadaNya dan Dia adalah penolongku”. Ia berkata, “Bukankah engkau mengatakan kepada kami bahwa kami akan datang ke Baitulloh dan melakukan thawaf di sana?” Beliau menjawab, “Benar. Apakah aku telah memberitahukan kepada kalian bahwa kita akan datang ke Baitulloh tahun ini?” Umar menjawab,” Tidak”.

Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya kamu akan datang dan berthawaf di sana”. Lalu Umar menemui Abu Bakar, lalu Abu Bakar berkata kepadanya seperti itu dan menjawabnya seperti jawaban Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam kepadanya. (HR. Bukhari, no. 2732).

Kita lihat apa yang mendorong Umar Radhiyallahu’anhu berdialog dengan Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, bukankah merupakan keinginan untuk membela agamanya, berthawaf di Baitulloh dan beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala?.

Tetapi… Umar masih merasa dan menilai sikap tersebut sebagai dosa. Karena itu iapun bersungguh-sungguh dalam beramal shalih dengan harapan akan dapat menghapus dosanya itu. Ia mengatakan:” Karena kesalahan itu, saya melakukan berbagai amalan”. Dalam riwayat Ibnu Ishaq disebutkan bahwa Umar pernah mengatakan:” Aku senantiasa bersedekah, berpuasa, shalat dan memerdekakan budak, karena apa yang pernah kulakukan waktu itu” (seperti kisah diatas).

Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahulloh mengatakan: “Sesungguhnya dia melakukan amalan-amalan tersebut hanya karena hal itu (menganggapnya sebagai dosa), maka seluruh yang muncul darinya adalah termaafkan, bahkan mendapatkan pahala karena ia berijtihad di dalamnya” (Lihat Fathul Baari, 11/347)

Jika demikian biografi mereka para sahabat dalam apa yang mereka ijtihadkan, lalu bagaimana halnya dengan orang yang betul-betul melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan???.

Wahai kawan renungilah apa yang dituturkan oleh Imam Al-Auza’I, beliau mengatakan: ” Dikatakan sebagai dosa besar adalah apabila seseorang melakukan dosa kecil tapi ia anggap remeh” (Lihat Syu`’ab Al-iman , no.7153)

(Sumber Rujukan: Sabil An-Najah min Syu`mi Al-Ma`shyyiah, Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy)



Dikirim pada 30 April 2010 di akhlak dan nasehat
comments powered by Disqus
Profile

ana seorang gadis berjilbab yang mencari jati diri ana sndiri.. yang ingin membahagiakan keluarga ana dan ingin sukses dunia maupun akhirat.. dan ana mencintai Alloh selalu More About me

Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.105.219 kali


connect with ABATASA