0
Dikirim pada 21 April 2010 di akhlak dan nasehat

“Asyhadu an-laa ilaha illalah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”
Kalimat diatas pasti familiar dan setiap muslim saya yakin hapal diluar kepala bacaan tersebut. Hal ini dikarenakan bacaan diatas yang disebut dengan syahadat merupakan rukun yang paling mendasar dari akidah Islam dan merupakan rukun iman yang pertama dari 5 rukun iman. Ia sekaligus merupakan pusat dari seluruh ajaran Islam, dimana seluruh perkara aqidah dan syariat dalam Islam berdiri di atas dasar kalimat ini. Tak ada Islam tanpa kalimat ini.
Islam dibangun atas lima perkara, kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan Sholat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.”( HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar)

Menurut Rasulullah, kalimat syahadat juga merupakan kunci pintu syurga dan perahu penyelamat yang akan menghindarkannya dari jilatan api neraka.

Tidaklah seorang hamba bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasulnya, melainkan Allah mengharamkan neraka baginya.” ( HR.Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka kepada siapa saja yang mengucapkan laa Ilaaha Illalah ( tidak ada Tuhan Selain Allah), yang dengannya dia mencari keridlaan Allah.” ( HR.Bukhari dan Muslim)

Barang Siapa mati sementara dia mengetahui bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dia akan masuk syurga.” ( HR. Muslim)

Kesaksian Laa Ilaaha Illallah Muhammadar Rasulullah juga menjadi pembeda antara seorang muslim dengan kafir. Dengan kedua kalimat itulah, seorang yang sebelumnya kafir masuk ke dalam agama Islam serta mendapatkan segala perlakuan hukum sebagai seorang muslim, misalnya dalam masalah harta dan pemeliharaan kehormatan. Rasulullah bersabda :

Aku diperintahkan ( oleh Allah) untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Barangsiapa yang mengucapkan kalimat itu, berarti dia telah mendapatkan perlindungan dariku akan jiwa dan hartanya …” ( HR.Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Jelaslah kalimat syahadat mempunyai posisi yang sangat penting bagi seorang muslim. Seorang muslim adalah orang yang mengimani dua kalimat itu, dan dengan keimanan itu Allah menjamin akan berbahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya orang-orang yang kafir adalah orang yang ingkar terhadap dua kalimat ini dan mereka adalah orang-orang yang celaka, hidup merugi di dunia dan akhirat.

Namun demikian, kemuliaan yang dijanjikan oleh Allah tersebut tidaklah datang begitu saja. Diperlukan perjuangan dan amal shaleh. Kalimat syahadat tak cukup hanya diucapkan, melainkan harus betul-betul difahami maknanya, dikenali syarat-syarat dan diamalkan segala konsekuensi-konsekuensi yang ada padanya.

Dalam berbagai nash Al-Qur’an dan As-Sunnah, keimanan selalu dikaitkan dengan amal shaleh. Ini menunjukkan bahwa keimanan yang berpangkal pada kalimat syahadat, harus diikuti denganaamal shaleh sebagai konsekuensi yang dituntut oleh kalimat syahadat itu.
Misalnya firnan Allah swt :

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh mereka itu adalah sebagi-baik makhluk. “ (TQS. Al-Bayyinah : 7)

Selain itu, banyak dijumpai nash yang mengaitkan masuknya seorang hamba ke dalam syurga dengann amal shaleh yang dilakukannya, misalnya firman Allah swt :

Dan diserukan kepada mereka ( para penghuni syurga) ,’itulah syurga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (TQS.Al-A’raaf: 43)

Seorang tidak mengetahui apa yang disembunyikannya untuk mereka itu ( bermacam-macam ni’mat syurga) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjaklan.” (TQS. As-Sajdah : 17)

Ini semua menunjukkan, bahwa kalimat Laa Illaha Illalah Muhammadar Rasulullah bukan sekedar untuk diucapkan dengan mulut, tapi harus disempurnakan dengan bergiat melakukan amal shaleh sebagai konsekuensi dari kalimat itu, agar benar-benar bisa menjadi kunci syurga.

Wahhab bin Munabbih, seorang sahabat Nabi Saw, pernah ditanya seseorang,” Bukankah Laa Illaha Illalah itu kunci syurga?” Wahhab bin Munabbih lalu menjawab,” Benar.tetapi sebuah kunci pasti mempunyai gerigi. Kalau engkau membawa kunci yang bergerigi engkau akan bisa membuka pintu, tapi kalu tidak bergerigi, engkau tak akan bisa membukanya.” Yang dimaksudnya dengan gerigi pada kunci, adalah syarat dan konsekuensi yang terkandung dalam kalimat Laa Illaha Illalah.

Suatu saat Imam Al-Hasan Al Bashri, seorang tabiin besar, mendengar orang-orang secara dangkal berkata,” Orang yang mengucapkan Laa Illaha Illalah pasti masuk syurga.” Al Hassan Al Bashri lalu menjelaskan “Yang benar, barang siap mengucapkan Laa Illaha Illalah lalu menunaikan hak dan kewajiban yang melekat pada kalimat itu, niscaya dia masuk syurga.”

Bila berbagai syarat dan konsekuensi itu terwujud, niscaya kalimat syahadat yang bersemayam dalam dada seorang muslim akan berdampak nyata dan positif dalam kehidupannya. Kalimat Laa Illaha Illalah Muhammadar Rasulullah akan benar-benar bermakna baginya, tidak sekedar menjadi kalimat yang terucap di mulut tanpa makna dan pengaruh apa-apa.



Dikirim pada 21 April 2010 di akhlak dan nasehat
comments powered by Disqus
Profile

ana seorang gadis berjilbab yang mencari jati diri ana sndiri.. yang ingin membahagiakan keluarga ana dan ingin sukses dunia maupun akhirat.. dan ana mencintai Alloh selalu More About me

Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 676.048 kali


connect with ABATASA